Virus Korupsi yang Sulit Disembuhkan

Ade Parlaungan Nasution

 

MENYIKAPI Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Polda Sumatera Utara, baru-baru ini terhadap Plt Kepala Dinas Perkim Labuhanbatu, FS dan juga di daerah lainnya. Menimbulkan suatu hipotesis: Jangan-jangan budaya korupsi sudah secara implisit melekat pada budaya dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

Betapa tidak, untuk Labuhanbatu saja, masih segar dalam Ingatan masyarakat tentang ditangkapnya mantan Bupati Labuhanbatu periode 2014–2019 (PH) yang cukup menggegerkan masyarakat. Namun, kejadian ini ternyata tidak menimbulkan efek jera kepada pejabat lainnya.

Kita dan masyarakat tahu, bahwa tindakan korupsi itu adalah menzalimi kepentingan masyarakat banyak untuk kepentingan diri sendiri. Tindakan korupsi menyebabkan berbagai macam dampak antara lain masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memuaskan.

Murid tidak mendapatkan proses belajar mengajar yang bermutu, masyarakat tidak menikmati kualitas hidup yang layak, akibat infrastruktur yang dikorupsi, dan paling utama adalah masyarakat tidak mendapatkan apapun yang berkualitas dari yang namanya pemerintah.

Virus perilaku korupsi di Indonesia sangat sulit disembuhkan apalagi dikaitkan dengan karakter sosiologis masyarakat terutama di Labuhanbatu. Masyarakat kita mulai dari kecil sampai besar selalu berhadapan dengan aroma korupsi dan ini juga didukung oleh orangtua.

Penyembuhan virus perilaku korupsi ini sangat susah, bahkan secara bercanda beberapa pakar mengatakan harus menebas habis satu generasi agar generasi berikutnya terbebas dari virus korupsi.

Yang perlu dilakukan adalah, pemerintah dan ulama serta tokoh agama lainnya untuk merevitalisasi ajaran agama dan kebudayaan di tengah masyarakat. Terutama tentang nilai kejujuran, budaya takut menzalimi makhluk, dan budaya integritas yang semuanya tertulis jelas berikut sanksi dan pahalanya dalam semua ajaran agama dan budaya di Indonesia.

Indonesia bukan kekurangan orang pintar dan cerdas, tidak pernah kehabisan orang yang berani dan inovatif, tetapi Indonesia kekurangan orang yang berintegritas dan mempunyai komitmen kuat, kenapa kita kekurangan sosok yang integritas dan berkomitmen? Salah satunya adalah sistem pendidikan, struktur masyarakat yang berubah dan sistem politik kita yang menyebabkan darurat manusia integritas dan komitmen.

Percuma dilakukan penangkapan oleh KPK dan Polri. Sia-sia kita memberikan sosialisasi kepada pelajar dan mahasiswa tentang bahayanya perilaku korupsi. Sedangkan mereka dan dunianya kerap berhadapan mesra dengan perilaku korupsi baik oleh pemerintah, masyarakat dan lingkungannya.

Menurut saya, masyarakat juga terlibat bersalah dalam menyulut perilaku korupsi ini yaitu tidak dengan memakai pendekatan objektif, aspek agama dan budaya dalam memilih pemimpin pemerintahan di daerahnya.

Masyarakat masih mengunakan pendekatan subjektif melalui hubungan persaudaraan, SARA dan yang paling bahaya adalah materi.

Berbeda dengan negara Barat yang cenderung tidak beragama. Mereka memilih pemimpin betul-betul rasional dengan mempertimbangkan aspek moral, agama, bahkan sepak terjang si calon pemimpin.

Saran saya, yang perlu dibenahi adalah pikiran kita baik kualitas penerapan agama dan moral, baik masyarakat maupun orang yang akan dipilih sebagai pemimpin. Mari kita pakai pendekatan etis dan moral yang jelas-jelas ada di dalam kitab suci masing-masing agama dan ajaran seluruh kebudayaan yang ada di Indonesia. **

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.