Pembangunan Negara Dalam Perspektif Budaya

Ade Parlaungan Nasution *)

 

Saat ini sejarah menjadi begitu nisbi, semuanya mengikuti alur dialektika thesis, antithesis dan syntesis. Pada era pasca perang dunia ke 2, peradaban dan pembangunan yang melejit adalah semacam hak preogratif bangsa-bangsa barat yang didasari semangat kebebasan dan pengakuan hak individu. Namun di tahun 2000 an, kendali mulai diambil alih negara-negara Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan yang paling dahsyat adalah China, yang saat ini  merupakan negara adidaya perekonomian dalam dunia modern yang ditandai dengan ciri ekonomi modern yaitu kompetitif dan dalam skala global. Sehingga dapat dikatakan secara hipotesis bahwa negara-negara maju saat ini yang menguasai perekonomi dunia adalah negara-negara yang memakai basis budaya sebagai pedoman dalam proses pembangunan bangsanya.

Adalah menarik bagi Indonesia, dan umumnya negara negara Asia menyikapi negara negara yang adat dan budaya nya relatif sama seperti Jepang, Korea dan China yang sama sama memakai adat timur yang secara stereotif dapat ditandai secara umum dengan budaya menghormati yang lebih tua, budaya malu, musyawarah, gotong royong. kesukuan, dan budaya timur lainnya yang bisa secara spesifik seperti ulet, tahan banting, hemat, kerja keras dan nilai penghargaan yang tinggi terhadap pendidikan. Di sisi lain, ada juga beberapa atribut budaya yang justru kontra produktif terhadap pembangunan seperti takut mengambil resiko, fatalis, pasrah, tidak siap akan perubahan dan lain-lain, namun secara umum budaya Timur mengandung kekuatan untuk bersatu menuju suatu perubahan yang besar .

Kebijakan pembangunan di Indonesia selama ini mulai dari orde Lama sampai era reformasi lebih banyak ditentukan oleh kebijakan politik dan kebijakan industrinya berorientasi pada keunggulan komparatif yaitu yang mengunggulkan sumber daya alam yang tersedia seperti minyak bumi dan kekayaan alam lainnya. padahal dunia saat ini mengalir bahkan sampai jauh hanya sekedar untuk menemukan produk yang kompetitif seperti yang terdapat dalam sistem manajemen rantai pasokan global untuk menemukan produk yang berkualitas namun dengan harga yang lebih murah baik itu barang dan jasa. Perang dagang dan proteksionisme perdagangan internasiona yang sedang berlangsung pada gililrannya memaksa negara miskin dan berkembang untuk menjual sumber daya alam dan buruh murahnya  ke negara maju.

Disamping itu juga, kebijakan perekonomian Indonesia lebih banyak diarahkan kepada kebijakan makroekonomi yang antara lain kepada kebijakan fiskal dan moneter, sedangkan kebijakan mikroekonomi kerap diabaikan seperti kualitas tenaga kerja, sistem produksi, produktifitas dan teknik/metode produksi yang kompetitif. Kualitas tenaga kerja dapat diperoleh dari pendidikan dan pelatihan baik yang bersifat formal maupun di Balai Latihan Kerja  (pendidikan vokasi), sistem produksi dapat dipacu dengan mekanisasi alat alat produksi baik itu mesin modern maupun canggih

Di duga, dengan dua variabel utama inilah baik itu variabel kompetitif dan variabel mikroekonomi ini yang menyebabkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan China dapat memenangkan persaingan perekonomian dan Industri global dan tentu saja ditambah variabel variabel lain seperti stabilitas politik, aturan perundangan yang jelas dan peran pemerintah yang konsisten.

 

Peran Pemerintah dalam meningkatkan Kesejahteraan : Suatu Sintesis

Ditengah derasnya persaingan antar negara, sudah saatnya pemerintah Indonesia baik Pusat maupun Pemerintah Daerah sudah mulai mengaplikasikan budaya lokal dalam perencanaan pembangunan dengan memasukkan unsur unsur budaya terutama budaya yang berkaitan dengan ekonomi. Budaya ekonomi adalah suatu kepercayaan, sikap dan nilai yang terkandung dalam kegiatan ekonomi individu, organisasi maupun lembaga lainnya dan Atribut-atribut Budayanya dalah antara : kerja keras, inisiatif, hemat, dan pentingnya nilai pendidikan

Setidaknya ada 3 hal utama yang harus dilakukan oleh pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk memanfaatkan sisi budaya yang baik menjadi filosofi dan pandangan hidup dalam nelakukan aktivitas pembangunan untuk mencapai kemakmuran anatar lain yaitu : 1. Produktivitas : yang menyangkut tentang teknik terbaik dan metode terbaik dalam menghasilkan suatu barang dan jasa. 2. Kompetitif ; yang berorientasi pada efiesiensi dan efektifitas dan 3. Mikroekonomi, yang menyangkut kualitas sumber daya manusia dan sistem produksi. Dan perlu ditanamkan secara kelembagaan dalam budaya kolektif  bahwa kemakmuran bukan berasal dari kekayaan sumber daya alam yang melimpah tetapi berasal dari produktivitas dan sistem produksi yang kompetitif.

Disamping itu juga ada beberapa trend baru dalam pembangunan suatu negara dengan tetap budaya sebagai basisnya dan ada banyak istilah dalam proses pembangunan yang diyakini sebagai solusi dalam suatu negara/daerah yatu: Land Reform, pembangunan Komunitas, pemusatan Perhatian  kepada kelompok termiskin, kebutuhan dasar manusia, teknologi tepat guna, kelompok Perempuan, Privatisasi, Desentralisasi dan pembangunan berkelanjutan yang mana pola-pola ini banyak dipakai sebagai pendekatan dalam pembangunan komunitas seperti di India.

Selain itu, kualitas sumber daya manusia merupakan merupakan komponen penting dalam setiap gerak dari strategi pembangunan daerah. Dari sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dapat mempercepat pembangunan daerah. Agar menjadi sumber daya manusia yang tangguh penduduk harus mempunyai kualitas yang memadai sehinga dapat menjadi modal pembangunan yang efektif. Tanpa adanya peningkatan kualitas, jumlah penduduk yang besar akan menimbulkan berbagai masalah dan menjadi beban pembangunan.

Upaya pembangunan melalui strategi pembangunan daerah yang terencana dapat menghasilkan capaian tujuan pembangunan yang diharapkan. Perencanaan yang tepat sesuai dengan kondisi di suatu wilayah menjadi syarat mutlak dilakukannya usaha pembangunan daerah. Selain itu, kolaborasi dengan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan strategi pembangunan daerah.

 

*) Dosen Tetap FEB  Universitas Labuhanbatu, Rantauprapat

Note : telah dimuat dalam Opini Harian Analisa, Medan 1 Februari 2020

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.